Tuesday, July 2, 2019

BANTEN GIRANG

SEJARAH BANTEN GIRANG




Banten Girang   merupakan sebuah komplek pemakaman keluarga dan keturunan anak dari Sultan Hasanudin yang merupakan Raja di Kerajaan Banten.  Penjiarahan ini terletak di Jl. Raya. Pandeglang, Kampung Sempu Banten Girang RT 01 RW 17 Cipare Serang.

Dalam Komplek Makam ini terdapat 2 Makam yang di Kramatkan, yakni makam putra Sultan Hasanudin yakni "Ki Mas Jong, dan Ki Agus Ju. 
Tahun 932 dan 1030 Masehi Banten Girang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda,  tahun 1526 Sultan Gunung Jati dan Putranya Sultan Hasanuddin yang berasal dari Kerajaan Demak merebut kekuasaan Banten Girang dan Pelabuhan Banten dan menjadi Kesultanan Banten. Banten Girang adalah sebuah pelabuhan dan sebuah Benteng pertahanan, dikelilingi oleh Kali yang bernama Kali Banten. Pada masa Kali Banten dapat dilalui oleh kapal - kapal perdagangan dan berlabuh di Banten Girang. 

Pada awalnya Sultan Gunung Jati atau Syarifhidayatullah mulai melakukan perebutan kekuasaan dari daerah Gunung Pulosari di daerah Pandeglang. Didaerah tersebut Sultan Gunung Jati melakukan penyebaran agama Islam pertama kali di daerah Banten. Di Museum Nasional Indonesia terdapat beberapa Arca yang berasal dari daerah Banten yang disebut “Arca Caringin" Arca tersebut diketemukan di taman hiasan kebun asisten-residen Belanda di tempat tersebut. Arca tersebut dilaporkan ditemukan di Cipanas, dekat kawah Gunung Pulosari, dan terdiri dari satu dasar patung dan 5 arca berupa Shiwa Mahadewa, Durga, Batara Guru, Ganesha dan Brahma. Coraknya mirip corak patung Jawa Tengah dari awal abad ke-10. Oleh karena itu, Gunung Pulosari dikaitkan dengan Banten Girang dan diperkirakan merupakan tempat kramat kerajaan Sunda.


Tidak jauh dari komplek pemakaman terdapat sebuah GOA kecil, GOA tersebut terketak di sebelah utara komplek pemakaman dipinggir bibir Kali Banten. GOA yang berukuran 1 x 1 meter tersebut terdiri dari 2 ruang kecil, yang menurut sesepuh setempat digunakan untuk bertapa dan persembunyian. Bahkan ada mitos bahwa sebenarnya GOA tersebut sangatlah panjang dan bisa tembus sampai ke wilayah Komplek Kesultanan Banten di daerah Kasemen Serang Banten. Namun belakangan ada beberapa bukti otentik yang menguatkan hal tersebut. Di tahun 2018 diketemukan sebuah Gorong -  gorong besar seperti sebuah jalan GOA didaerah Pasar Lama Serang Banten. Diketemukannya gorong – gorong besar tersebut berawal dari amblasnya tanah di daerah tersebut dan ternyata d bawah lokasi bangunan Pasar Lama merupakan jalur Gorong – gorong yang panjang, dan bisa jadi jika ditelusuri tembus ke Kesultanan Banten lama dan Banten Girang.

Banten Girang berada di tengah dari Kali Banten yang di apit oleh dua buah kampung, yang pertama Kampung Sempu yang berada di sebelah kiri dari Banten Girang dan Kampung Tirtalaya yang berada di sebelah kanan dari Banten Girang. Banyak dari masyarakat sekitar yang masih menemukan beberapa peninggalan sejarah ketika mereka menggali di kedalaman tertentu, banyak dari masyarakat sekitar tanpa sengaja menemukan keramik kuno yang berupa peralatan makan, hiasan rumah, bahkan ada yang menemukan patung dan relief kuno. Menurut sejarah Banten Girang awalnya merupakan sebuah kota yang ramai. Dan hal terseut terbukti dari masih adanya pasar tradisional yang ada hanya pada saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pasar tersebut berada di jalan dari pintu masuk Kampung Sempu sampai menuju Banten Girang. Menurut sesepuh sekitar Pasar tersebut dinamakan “Pasar Ceplak”, yang berarti para pedagangnya menggelar lapak dagangan dengan berjajar disepanjang jalan menuju Banten Girang. Barang dagangan yang biasa mereka perjualkan adalah hasil bumi, seiring berjalannya waktu pasar tersebut berubah menjadi Pasar Mainan anak – anak.

Kurangnya perhatian dari Pemerintah setempat akan bukti sejarah yang ada di daerah tersebut berdampak banyaknya peninggalan sejarah rusak bahkan putus begitu saja.


No comments:

Post a Comment